Akibat kebakaran Juli tahun lalu, Farmasi kehilangan dua laboratorium., praktikan pun harus bergeriliya
Hujan yang terus mengguyur belakangan hari menyebabkan seperuh jalan kota Makassar tergenang air, kilauan sinar matahari yang enggan mendukung hari mengakibatkan, Daeng becak yang mangkal di traffic light jalan masuk Baraya tetap tak mau turun harga. Tarif masuk ke area Fakultas Farmasi (FF) tetap lima ribu rupiah, lokasi dimana dua laboratorium darurat Fitokimia dan Mikrobiologi FF bertempat, pasca kebakaran kampus Unhas Tamalanrea, Juli tahun lalu yang membumi hanguskan lantai lima dan enam FF, termasuk diantaranya Lab Fitokimia dan Lab Mikrobiologi
Siang itu, Senin (19/01) tampak dua ruangan yang dulunya kelas perkuliahan Mahasiswa FF program regular sore, beberapa mahasiswa berjubah putih masih sibuk dengan alat-alat lab ditanganya, terlihat dua meja besar dan dibawahnya menumpuk kresek-kresek, jerigen, dus-dus bekas, dan masih banyak lagi rongsokan lain yang ternyata adalah hasil penelitian FF “Maumi diapa? Tidak ada lemari,” ucap Haslia, selaku Laboran. Mikrobiologi
Pengadaan fasilitas lab dimulai awal Oktober tahun lalu. alat –alat Lab terpaksa untuk sementara harus mengutang 10 juta pada distributor peralatan lab. Sampai-sampai ketua pengelola lab Fitokimia ini meminta bahan ke Universitas Gajah Mada, Jogjakarta. sebagian bahan juga berasal dari sisa penelitian dosen yang masih layak digunakan mahasiswa,
Setiap harinya dua ruangan itu didatangi oleh sekira 50-an mahasiswa maupun dosen untuk menyelesaikan penelitianya. Lab. ini bahkan dibuka sampai pukul 23.00 Wita karna praktikan harus antri dalam memakai peralatan lab dengan penggunaan bahan sehemat mungkin “Kualitas penelitian tentu mengalami menurun. Jika dulu untuk satu penelitian kita butuh tahap A-G misalnya, sekarang hanya dilakukan sampai tahap D karena harus menghemat bahan, sehingga sekali praktikum itu bisa dari pagi sampai tengah malam,” terang Prof Dr Gemini Alam MSi, selaku Ketua Pengelola Lab Fitokimia, saat ditemui dalam ruang sidang akhir, Kamis (21/1).
Pada Tahun ajaran Awal semester 2009/2010 kemarin, Oktober lalu Sebanyak 236 peserta paraktikum mata kuliah Isolasi Senyawa Bioaktif FF bergeriliyah di Baraya, Belum lagi dua lab ini di pakai pula oleh peserta praktikum untuk Mata Kuliah Mikrobiologi dan Virologi sebanyak 105 mahasiswa. Berbagi peralatan itu sudah biasa, mahasiswa bahkan ada yang terpaksa membawa sendiri alat untuk praktikum. “kami sering dijanji untuk perbaikan dan pengadaan lab secepatnya, tapi realitanya lagi-lagi kami harus menunggu, entah sampai kapan”keluh Hermanto Utomo mahasiswa FF angkatan 2007
Selain untuk praktikum, dua lab ini pun dipakai oleh Sekira dan beberapa dosen yang hendak penelitian akhir, keterbatasan sarana dan prasarana lab. menyebabkan mereka harus menyewa dari Fakulitas lain Misalnya yang dialami oleh Sari (nama samara). Karena Evaporator FF telah dilalap sijago merah maka ia harus menyewa ke Fakultas Pertanian
Oktober tahun lalu Farmasi telah mengajukan rancangan gedung berlantai empat lengkap dengan fasilitas lab. Lahan kosong antara fakultas MIPA dan Pertanian pun menjadi pilihan tempatnya. “Kita berharap secepatnya dibangunkan gedung baru untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang ada,”ungkap Prof Elly Wahyuddin, selaku Dekan FF, kemudian menambahkan .” dana yang dibutuhkan mencapai 30 M namun masih menunngu keputusan rektor” tambahnya
Namun, yang membuat FF pesimis akan adanya realisasi gedung baru ini karena dalam Rencana Pengadaan Barang dan Jasa di lingkungan Unhas tahun anggaran 2010 yang diumumkan dalam website tak satupun dari 18 item yang ditampilkan untuk pengadaan gedung baru FF. Menjawab hal tersebut Pembantu Rektor II, Dr dr Wardihan Sinrang MS “Sekarang ini yang dapat kita lakukan adalah bagaimana kita merenovasi yang ada dulu karena untuk membangun yang baru itu kan butuh waktu yang lama,”jelasnya saat ditemui, Kamis (21/1)